Sabtu, 19 April 2014

culture study and technology


Studi Budaya dan Teknologi Komunikasi
Studi kebudayaan berkomitmen untuk mempelajari seluruh rentang seni masyarakat. Budaya dipahami baik sebagai suatu cara hidup yang meliputi gagasan, sikap, bahasa dan struktur kekuasaan. Secara historis, memahami peran teknologi dalam budaya tampaknya sangat mendesak seperti sebagai berikut: (1) media baru teknologi memainkan peran sentral dalam perubahan konfigurasi ekonomi global politik: (2) teknologi media baru memberikan kontribusi untuk mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru, era informasi: dan (3) media baru teknologi memainkan peran mencolok dalam budaya populer.
Ciri-ciri study budaya menurut ilmuan, adalah suatu studi yang melihat sebuah budaya bukan hanya sebagai budaya, namun juga memiliki budaya tersebut memiliki hubungan dengan yang lain.
Dari Kausalitas Hingga Agensi
Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian.
Penggambaran dari semua jenis efek samping hampir menunjukkan adanya tingkat absurditas yang tinggi yang diutarakan oleh Edward Tenner dalam Why Thing Bite Black (1996). Sebaliknya, posisi dimana teknologi merupakan alat netral yang hampir bereaksi kepada  (yang merupakan efek) kebutuhan dan hasrat dari perlakuan meresapi budaya dari teknologi.
Gagasan Winner (1996) bahwa teknologi adalah bentuk dari kehidupan; kemunduran ide dari teknologi itu sendiri dianggap sebagai sebuah artikulasi (1989); Latour (1988, 1996; Callon dan Latour, 1981) dan haraway (1992) konsep dari agen teknologi; dan Wise (1997) teknologi dikiaskan sebagai orang – orang yang berkumpul. Setiap tokoh menolak anggapan umum mengenai persamaan (pemaknaan) teknologi sebagai sesuatu, dengan perasaan yang menenangkan bahwa batas dari apa itu teknologi khusus dapat dibatasi dengan jelas. Sebagai contoh, teori kultural menolak untuk mempelajari komputer sebagai sebuah perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan sederhana yang menghubungkan satu komputer ke komputer lain atau ke media lain. Lebih baik, mereka merasa lelah untuk memahami teknologi sebagai bentuk dari kehidupan, sebuah ungkapan (artikulasi), sebuah peralatan atau sebuah kumpulan dimana lembaga mengalir.
Dari Keniscayaan Ini Untuk Kemajuan Silsilah
Nisbet (1980), menyatakan bahwa spesies manusia- secara alami - melakukan pengembangan secara tetap menuju peningkatan kesempurnaan di bumi ini. Dan teknologi telah menjadi penanda kemajuan itu – seperti halnya pelaku (lihat Smith dan Marx, 1994). Sebagai contoh, proyek pembangunan di awal tahun 1940 telah seringkali menggunakan teknologi media baru sebagai indikator pengukur dari ‘peradaban’ (Lerner, 1958).
Pembelajaran kebudayaan adalah sesuatu yang di beberapa sisi dapat diprediksi pada gagasan bahwa asal tidak menentukan sebuah akhir (Carey, 1975/1989), bahwa tidak ada sebuah ‘garansi’, dan bahwa koneksi, hasil, efek itu selalu ‘dimungkinkan’ daripada ditentukan.
Identitas, Politik, Dan Kecenderungan Teknologi
Ada 3 topik yang menarik bagi para ilmuan untuk mengkaji kultur studi yaitu identitas, politik dan kecenderungan teknologi. Identitas agaknya adalah produk hubungan sosial dan pengalaman. Mengikuti Williams (1958/1989) dalam ‘Kebudayaan adalah Biasa’, identitas terbentuk dalam hubungan diantara tradisi dan warisan dan keseluruhan cara dari hidup, itulah, dalam kehidupan dari warisan dan negosiasi dari tantangan itu pengalaman berkembang menjadi warisan tersebut.
Ketika berbicara tentang politik teknologi, setidaknya ada dua hal yang penting. Salah satunya adalah argumen yang lebih umum beredar di sekitar penggunaan politik teknologi. Harold Innis (1951) memperkenalkan gagasan bias teknologi: bias terhadap dan imposisionalisasi  atau desentralisasi kekuasaan. Budaya Aborigin, yang menghargai waktu, lokalitas dan kekerabatan, berjalan bertentangan dengan model standar siaran yang mengancam budaya Aborigin. Ketika kita berbicara tentang bias dari teknologi komunikasi elektronik kita harus berpikir tentang media baru seperti internet dan world wide web. Teknologi ini bias terhadap desentralisasi.
Teknologi komunikasi elektronik secara fundamental terkait dengan industri dan modal keuangan yang upaya kontrol (lih. Beniger, 1986). Ruang publik, yaitu baik komunitas terbayang, yang sphare publik atau khalayak massa, disusun untuk memastikan kepasifan umum pada bagian dari masyarakat (publik diwakili oleh orang lain dan oleh karena itu menjadi penonton terhadap demokrasi serta televisi). Stratton mengemukakan bahwa teknologi ini secara inheren merupakan salah satu cara atau bahwa internet adalah tempat perjuangan politik di antara lereng nilai (setidaknya) teknologi informasi, lembaga kapitalistik dan budaya melalui yang dikembangkan dan dipublikasikan.
Ada sebuah tekanan kebutuhan dalam kajian budaya untuk menghubungkan pemahaman teoritis ini dengan praktek pembuatan keputusan. Contohnya, keputusan mengenai teknologi media yang baru. Adanya kebutuhan untuk mempertimbangkan aspek agensi, politik dan ruang untuk rancangan, implementasi dan penggunaan media baru.
Selalu mudah untuk membuat saran atau kritik orang lain dalam tempat yang lain (perancang, pembuat keputusan, masyarakat umum), tetapi jika kita berpegang pada aspek konjungsi kajian budaya, kita harus menghadapi profesi kita sendiri yang sangat sering terjadi didalam konteks pendidikan yang lebih tinggi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar