Studi Budaya dan Teknologi Komunikasi
Studi
kebudayaan berkomitmen untuk mempelajari seluruh rentang seni masyarakat. Budaya
dipahami baik sebagai suatu cara hidup yang meliputi gagasan, sikap, bahasa dan
struktur kekuasaan. Secara
historis, memahami peran teknologi dalam budaya tampaknya sangat mendesak
seperti sebagai berikut: (1) media baru teknologi memainkan peran sentral dalam
perubahan konfigurasi ekonomi global politik: (2) teknologi media baru
memberikan kontribusi untuk mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru,
era informasi: dan (3) media baru teknologi memainkan peran mencolok dalam
budaya populer.
Ciri-ciri study
budaya menurut ilmuan, adalah suatu studi yang melihat sebuah budaya bukan
hanya sebagai budaya, namun juga memiliki budaya tersebut memiliki hubungan
dengan yang lain.
Dari Kausalitas Hingga Agensi
Kausalitas merupakan prinsip
sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui
tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara
segala kejadian.
Penggambaran dari semua
jenis efek samping hampir menunjukkan adanya tingkat absurditas yang tinggi
yang diutarakan oleh Edward Tenner dalam Why
Thing Bite Black (1996). Sebaliknya, posisi dimana teknologi merupakan alat
netral yang hampir bereaksi kepada (yang
merupakan efek) kebutuhan dan hasrat dari perlakuan meresapi budaya dari
teknologi.
Gagasan Winner (1996) bahwa
teknologi adalah bentuk dari kehidupan; kemunduran ide dari teknologi itu
sendiri dianggap sebagai sebuah artikulasi (1989); Latour (1988, 1996; Callon
dan Latour, 1981) dan haraway (1992) konsep dari agen teknologi; dan Wise
(1997) teknologi dikiaskan sebagai orang – orang yang berkumpul. Setiap tokoh
menolak anggapan umum mengenai persamaan (pemaknaan) teknologi sebagai sesuatu,
dengan perasaan yang menenangkan bahwa batas dari apa itu teknologi khusus
dapat dibatasi dengan jelas. Sebagai contoh, teori kultural menolak untuk
mempelajari komputer sebagai sebuah perangkat keras, perangkat lunak, dan
jaringan sederhana yang menghubungkan satu komputer ke komputer lain atau ke
media lain. Lebih baik, mereka merasa lelah untuk memahami teknologi sebagai
bentuk dari kehidupan, sebuah ungkapan (artikulasi), sebuah peralatan atau
sebuah kumpulan dimana lembaga mengalir.
Dari Keniscayaan Ini Untuk Kemajuan Silsilah
Nisbet (1980),
menyatakan bahwa spesies manusia- secara alami - melakukan pengembangan secara tetap menuju
peningkatan kesempurnaan di bumi ini. Dan teknologi telah menjadi penanda
kemajuan itu – seperti halnya pelaku (lihat Smith dan Marx, 1994). Sebagai
contoh, proyek pembangunan di awal tahun 1940 telah seringkali menggunakan
teknologi media baru sebagai indikator pengukur dari ‘peradaban’ (Lerner,
1958).
Pembelajaran kebudayaan
adalah sesuatu yang di beberapa sisi dapat diprediksi pada gagasan bahwa asal
tidak menentukan sebuah akhir (Carey, 1975/1989), bahwa tidak ada sebuah
‘garansi’, dan bahwa koneksi, hasil, efek itu selalu ‘dimungkinkan’ daripada
ditentukan.
Identitas, Politik, Dan Kecenderungan Teknologi
Ada 3 topik yang menarik bagi
para ilmuan untuk mengkaji kultur studi yaitu identitas, politik dan
kecenderungan teknologi. Identitas agaknya adalah produk hubungan sosial dan
pengalaman. Mengikuti Williams (1958/1989) dalam ‘Kebudayaan adalah Biasa’,
identitas terbentuk dalam hubungan diantara tradisi dan warisan dan keseluruhan
cara dari hidup, itulah, dalam kehidupan dari warisan dan negosiasi dari
tantangan itu pengalaman berkembang menjadi warisan tersebut.
Ketika berbicara tentang
politik teknologi, setidaknya ada dua hal yang penting. Salah satunya
adalah argumen yang lebih umum beredar di sekitar penggunaan politik teknologi.
Harold Innis (1951) memperkenalkan gagasan bias teknologi: bias terhadap dan
imposisionalisasi atau desentralisasi
kekuasaan. Budaya Aborigin, yang menghargai waktu, lokalitas dan kekerabatan,
berjalan bertentangan dengan model standar siaran yang mengancam budaya
Aborigin. Ketika kita berbicara tentang bias dari teknologi komunikasi
elektronik kita harus berpikir tentang media baru seperti internet dan world
wide web. Teknologi ini bias terhadap desentralisasi.
Teknologi
komunikasi elektronik secara fundamental terkait dengan industri dan modal
keuangan yang upaya kontrol (lih. Beniger, 1986). Ruang publik, yaitu baik
komunitas terbayang, yang sphare publik atau khalayak massa, disusun untuk
memastikan kepasifan umum pada bagian dari masyarakat (publik diwakili oleh
orang lain dan oleh karena itu menjadi penonton terhadap demokrasi serta
televisi). Stratton mengemukakan bahwa teknologi ini secara inheren merupakan salah satu cara atau bahwa internet adalah tempat perjuangan politik di
antara lereng nilai (setidaknya) teknologi informasi, lembaga kapitalistik dan
budaya melalui yang dikembangkan dan dipublikasikan.
Ada sebuah tekanan kebutuhan
dalam kajian budaya untuk menghubungkan pemahaman teoritis ini dengan praktek
pembuatan keputusan. Contohnya, keputusan mengenai teknologi media yang baru.
Adanya kebutuhan untuk mempertimbangkan aspek agensi, politik dan ruang untuk
rancangan, implementasi dan penggunaan media baru.
Selalu mudah untuk membuat
saran atau kritik orang lain dalam tempat yang lain (perancang, pembuat
keputusan, masyarakat umum), tetapi jika kita berpegang pada aspek konjungsi
kajian budaya, kita harus menghadapi profesi kita sendiri yang sangat sering
terjadi didalam konteks pendidikan yang lebih tinggi.
